Emansipasi Wanita Indonesia : Apakah Berarti Harus Berebut Dominasi Gender?

Penikmat Budaya.id – Hai, teman-teman! Sebenarnya hari Kartini sudah lewat hampir sebulan. Hehe. Namun saya baru berkesempatan menulis lagi, jadi gak apa-apa ya, telat dikit! 😀

Saya ingin membahas tentang emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh Kartini dalam budaya, dikarenakan kita memiliki budaya Timur, dimana kedudukan wanita biasanya dibawah dominasi pria.

Beruntungnya, kita sudah di zaman modern dimana kedudukan wanita sudah tidak lagi dianggap sebagai hanya “hiasan” semata untuk mengurus suami, anak dan rumah tangga saja, namun wanita kini sudah diizinkan memberikan opini secara lugas, mengekspresikan pikiran dan hatinya secara terbuka, dan sudah bisa bersaing dengan pria dalam hal prestasi ataupun jabatan pekerjaan.

Menariknya, persaingan dalam keseteraan gender pun ikut terbawa dalam rumah tangga. Secara tidak sadar, sang istri mengungkapkan ekspresi perasaan dan pikiran, serta tidak perlu lah melayani kebutuhan suami sampai segitunya, toh suami punya tangan dan kaki sendiri. Sedangkan suami, bisa jadi masih memakai nilai-nilai lama dalam rumah tangganya, sepatutnya seorang istri melayani kebutuhan suami dan nurut apa kata suami.

Fakta menarik ini, saya dapatkan berdasarkan dari hasil survey dan observasi kecil-kecilan, kurang lebih 10 orang. Istri lebih cenderung memiliki pandangan liberalisme, dimana istri bisa mengungkapkan perasaan, dan suami sendiri biasanya memiliki paduan prinsip, yakni liberalisme dan konservatif.

Perbedaan prinsip inilah yang membuat pasangan suami istri merasa tidak cocok satu sama lain. Suami dianggap terlalu kuno oleh istrinya, dan istri pun dianggap tidak perhatian oleh suaminya.

Nah, bagaimana dengan Kartini sendiri? Apakah benar kesetaraan gender ini malah menjadi “pertarungan” antar gender? Penasaran, saya pun mencari surat-surat yang dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Belanda.

Foto Kartini | Dokumentasi Pribadi

Ada 10 ungkapan surat yang dipetik dalam asliindonesia.net. Klik disini.

Ada 2 ungkapan surat Kartini yang membuat saya merefleksikan makna perjuangan emansipasi Kartini, diantaranya

Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya tanggal 4 Oktober 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Surat Kartini kepada Nyonya Abendon tanggal 10 Juni 1902

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”.

Dalam cuplikan surat dari Kartini yang pertama menegaskan bahwa kesetaraan gender yang diperjuangkan beliau adalah suami dan istri saling melengkapi. Pria dan wanita saling melengkapi satu sama lain.

Pendidikan sepatutnya juga didapatkan oleh wanita, untuk mendidik anak-anak, calon penerus nama keluarga dan bangsa. Selain itu, pendidikan yang didapatkan wanita juga bisa mendukung kesuksesan dalam rumah tangga. Suami bisa berdiskusi dengan istri tentang bermacam topik, atau pendidikan istri yang mumpuni bisa menumbuhkan kreativitas, sehingga suasana di rumah semakin dinamis.

Dan cuplikan surat Kartini yang kedua menunjukkan, bahwa seyogyanya wanita di Indonesia juga tetap memegang budaya dan tradisi Indonesia sendiri, dimana wanita tidak lebih tinggi daripada pria, seperti yang terjadi di negara Barat sana, kaum wanita dianggap wajar untuk mendominasi kaum pria. Namun, bukan berarti juga, wanita berada dibawah naungan dominasi pria. Artinya, pria dan wanita adalah partner hidup. Saling mengisi satu sama lain.

Jadi, opini saya pribadi nih, perjuangan emansipasi wanita yang perlu kita lanjutkan adalah kita, kaum wanita Indonesia, jangan berhenti untuk terus belajar, mengenyam pendidikan dan terus berkarya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Dengan begitu kesetaraan gender memiliki makna yang sebenarnya, bukan menjadi saingan hidup.

Bagaimana dengan pendapat teman-teman? Apakah setuju dengan saya? Hehe.

Referensi :

Asli Indonesia. 10 Kutipan Surat R.A Kartini yang Menggugah Hati. Diakses dari Asliindonesia.net tanggal 11 Mei 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s