Teater Ronggeng Kulawu : Pentingnya Pendidikan bagi Suatu Bangsa

Penikmat Budaya.id – Hari Minggu kemarin, saya duduk bersantai dengan pasangan menonton Teater Ronggeng Kulawu di YouTube Indonesia Kaya. Teater tersebut mengambil latar belakang masa akhir penjajahan Belanda dan kependudukan Jepang.

Maudy Koesnaedi berperan sebagai Maesaroh, penari Ronggeng dari Dusun Kulawu, dan Andi Kanemoto berperan sebagai Kapten Kazuo Ito.

Dikisahkan Maesaroh adalah seorang gadis lugu yang hanya tinggal bersama Abahnya (sapaan Ayah dalam Basa Sunda). Ia biasa dipanggil Mae. Pendidikan yang ia terima hanya terbatas pada bisa membaca dan menulis saja. Mae tidak diperbolehkan Abahnya untuk sekolah terlalu tinggi. “Tidak baik untuk wanita”, kata Abah.

Saya memakluminya, karena zaman itu keseteraan gender belumlah ada di Indonesia.

Karena keterbatasan pendidikannya, Mae pun tidak menangkap makna ejekan ketika membaca papan tulisan “Inlander (sebutan Belanda untuk penduduk Indonesia asli) dan anjing dilarang masuk!“. Ia hanya menganggap, “Oh, orang Indonesia tidak boleh masuk”. Jadi ia membaca papan tulisan tersebut datar saja, sama sekali tidak ada analisa lagi.

Kemudian, ketika kekasih hatinya, Kang Uja meneriakkan tentang Sekutu Belanda yang menjajah bangsa Indonesia dan mengeruk habis kekayaan alam bangsa kita, Mae hanyalah tersenyum tidak paham. Ia malah lebih memperhatikan raut wajah Kang Uja yang lucu saat sedang marah.

Dalam dunia Mae, ia merasa bangsanya baik-baik saja. Ia dan teman-temannya masih bisa mendapatkan pekerjaan untuk kebutuhan sehari-hari. Mae pun masih hidup aman dan damai bersama Abahnya. Apalagi ia mengenal seorang Belanda yang sangat baik hati. Orang Belanda tersebut suka menanyakan tarian dan lagu Ronggeng, serta sering membawa ia dan teman-temannya kalau sedang jatuh sakit.

Jadi, bagi Mae, bangsanya bukan dijajah, tapi memang didunia ini ada orang yang baik dan jahat.

Sampai sini, saya menangkap bahwa Mae memang gadis yang polos dan belum tersentuh pada kejamnya dunia. Namun, ada keterbatasan pendidikan yang mempengaruhi Mae sehingga ia tidak bisa menganalisis makna sebuah kalimat, dan memahami situasi yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

Kembali ke Teater…

Sekutu Belanda diusir, kemudian datanglah Tentara Jepang, negara yang saat itu dianggap sebagai Pelindung, Pemimpin dan Cahaya Asia.

Pada awalnya semua orang Indonesia sangat bergembira, karena mereka terlepas dari penjajahan Jepang. Mereka pun sempat makmur dan bebas dalam beberapa waktu yang singkat. Namun, semakin lama, orang Indonesia jauh lebih menderita dibandingkan saat mereka dijajah Belanda. Harta kekayaan dan bahan pangan hampir semuanya dirampas oleh Tentara Jepang. Tidak itu saja, mata pencaharian orang Indonesia pun semakin lama semakin tidak ada.

Miskin semiskin-miskinnya.

Gadis-gadis di Indonesia pun banyak yang ditangkap paksa, termasuk Maesaroh yang langsung diseret dari rumahnya, dan dilempar ke dalam truk, untuk dibawa ke rumah bordil, melayani nafsu birahi Tentara Jepang. Keluarga gadis itu tidak ada yang sanggup menang melawan Tentara Jepang.

Sesampainya di rumah Bordil, para gadis ini harus melayani puluhan Tentara Jepang. Bahkan gadis yang sedang hamil pun tetap harus melayani puluhan tentara. Andai ada yang mengidap penyakit kelamin, maka gadis tersebut akan dibuang begitu saja.

Jujur saja, saya sampai ngilu mendengar monolog Maudy Koesnaedi. Mungkin karena saya perempuan, ya, duh, rasanya pasti menderita sekali. Diperkosa satu orang saja pastinya membuat kita begitu mual dan sakitnya luar biasa, belum lagi menanggung malu karena kehilangan kegadisan seperti menjatuhkan reputasi diri dan keluarga. Apalagi puluhan tentara?

Andai dulu kita sudah mengenyam pendidikan, setidaknya kita akan bisa menyusun taktik dan strategi supaya tidak dibawa Tentara Jepang, atau keluar dari jeratan penyiksaan seperti itu. Semakin tinggi pendidikan, dan bila kita benar-benar belajar, maka kita akan terlatih untuk menganalisis dan membuat solusi dari suatu permasalahan.

Suatu hari Maesaroh dibawa oleh Sersan Hiroshi ke suatu tempat yang ia tidak tahu tujuannya. Selama perjalanan, ia melihat banyak warga Indonesia yang berbisik-bisik bahwa dirinya adalah pelacur. Hati Mae begitu sedih dan sakit, karena warga yang menatapnya hanya tahu ia mendapatkan pakaian bagus dan makanan enak, sedangkan mereka menderita kelaparan. Warga yang menatapnya sama sekali tidak menganggap ia sebagai korban.

Hmm… andai dulu kita sudah mengenyam pendidikan, pastinya warga yang menatapnya akan memahami situasi Maesaroh. Masalahnya, pengangkutan gadis-gadis Indonesia ke rumah Bordil, bukanlah tindakan yang dirahasiakan, melainkan tindakan yang dilakukan secara terbuka oleh Tentara Jepang didepan rakyat Indonesia.

Karena keterbatasan pendidikan lah, yang membuat mereka kurang berempati dan tidak memahami situasi yang sebenarnya. Akibatnya, kita malah mudah terpecah belah. Kita hanya melihat apa yang dilakukan oleh Mae adalah tindakan yang melanggar norma masyarakat. Andai kita dulu sudah mengenyam pendidikan dan memahami situasinya, saya yakin warga yang menonton akan pasti membuat strategi untuk menyelamatkan Mae, karena mereka paham mereka semua, orang Indonesia, sama-sama menderita. Rasa gotong royong kita itu sangat tinggi ketika salah satu dari kita ditindas oleh bangsa lain.

Mae pun dibawa ke rumah Kapten Kazuo Ito, salah satu Tentara Jepang yang menurut Mae lebih baik daripada tentara lainnya. Ia pun dijadikan gundik oleh Kapten Ito. Hidupnya disana jauh lebih baik, dibandingkan saat dia tinggal di rumah bordil. Namun tetap saja, kemanapun ia melangkah, Mae haruslah dikawal oleh Tentara Jepang.

Suatu hari Mae diizinkan pulang ke kampungnya dengan cara dikawal. Ia menangis bahagia sekaligus bersedih hati ketika bertemu Abah dan Kang Uja, kekasih hatinya.

Abahnya menitipkan rasa terima kasih yang amat sangat untuk Kapten Ito karena sudah memberikan beras dan ikan asin. Rasa terima kasih diberikan, karena Abah sudah lama tidak menikmati nasi. Semua hasil panen dirampas oleh Tentara Jepang. Mae begitu pilu saat mendengar Abah menghaturkan rasa terima kasih, Mae yakin sekali kalau dalam keadaan normal, Abahnya pasti akan sangat marah begitu tahu putri semata wayangnya hanya dijadikan gundik saja.

Saya menonton adegan ini tanpa sadar menitikkan air mata. Saya membayangkan diri sebagai Abah Mae. Bagaimana sakitnya perasaan orang tua ketika melihat anaknya diseret paksa untuk dijadikan pelacur, dan harus berterima kasih pada orang yang hanya menjadikan anak sendiri, seorang gundik, dengan pikiran, setidaknya saat putrinya menjadi gundik, putrinya bisa bertahan hidup dan menikmati kehidupan sedikit lebih baik.

Hmm… andai kita mengenyam pendidikan dari dulu, mungkin para orang tua akan kompak membuat strategi supaya anak-anaknya terlepas dari siksaan seperti itu, sama seperti kehidupan yang sekarang kita nikmati.

Sepulangnya dari kampung, Mae mendapatkan kabar bahwa Kang Uja digantung. Isunya, Kang Uja digantung karena itu pergerakan kemerdekaan, dan ada isu yang beredar pula kalau Kapten Ito merasa cemburu. Kesedihannya menjadi titik balik dirinya untuk membantu perjuangan kemerdekaan. Disana matanya semakin terbuka bahwa bangsanya telah dijajah dan dibuat menderita.

Mae melihat dirinya memiliki pasokan makanan yang bisa membantu para pejuang kemerdekaan. Maka, diam-diam diberikannya pasokan makanan yang diambil dari rumahnya kepada pemilik warung, untuk diberikan kepada pejuang kemerdekaan. Namun apa daya, ternyata pergerakan senyapnya dalam membantu pejuang kemerdekaan, malah cepat ketahuan oleh Sersan Hiroshi.

Pemilik warung pun dibunuh dengan cara dicekok sayur-sayur yang diberikan Mae. Sedangkan Mae… kebayanya dilucuti, dan ia pun dicambuk didepan umum dengan menggunakan sabuk Sersan Hiroshi.

Andai Mae saat itu sudah mengenyam pendidikan, bisa jadi ia menyusun taktik yang lebih baik supaya jalan memasok makanan lebih mulus, dan tidak merenggangkan nyawa orang lain yang membantu gerakannya.

Teater ini menyadarkan saya bahwa pendidikan tidak sekedar yang penting kita lulus dan mendapatkan pekerjaan saja. Pendidikan melatih otak kita untuk menganalisis, bersikap objektif, bisa menyusun strategi, dan berwawasan lebih terbuka. Dengan begitu, bangsa kita tidak mudah terjajah, dan negara pun tidak mudah diombang-ambing oleh negara lain.

Bila kamu mau menonton lebih lengkapnya, kamu bisa menontonnya disini. Dijamin dialog dan monolog dalam teater ini sangat bisa menyentuh hati dan membuat kita menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa.

Teater Ronggeng Kulawu dari YouTube Indonesia Kaya

Salam,

Penikmat Budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s