Truntum, Lambang Cinta Permaisuri kepada Raja

Penikmat Budaya.id – Hai, Penikmat Budaya! Kalian pasti sering melihat motif ini. Motif ini memiliki makna yang sangat dalam, lho, untuk para pasangan yang sudah menikah.

Perkenalkan nama motif ini adalah Truntum, yang berasal dari bahasa Jawa, yakni Tumaruntum, artinya terus tumbuh berkembang. Motif ini aslinya berbentuk seperti Bintang Kejora. Motif Truntum diciptakan oleh Permaisuri Paku Buwono III, Gusti Kanjeng Ratu Kencana ketika sedang bersedih hati.

Kesedihan hati melanda sang Permaisuri dikarenakan Raja Paku Buwono III lebih sering mengunjungi Selirnya. Hal ini dikarenakan sang Permaisuri tidak kunjung memiliki putra. Hati istri mana yang tidak pedih ketika suami lebih sering mengunjungi istri mudanya, walau dizaman itu, sikap yang dilakukan oleh sang Raja dianggap biasa.

Untuk menghilangkan rasa sedihnya, sang Permaisuri pun menghabiskan waktunya dengan membatik. Beliau pun terinspirasi untuk membuat motif Bintang Kejora.

Melihat Permaisuri begitu sering menghabiskan waktunya sendiri, sang Raja pun datang menemuinya untuk melihat kegiatan apa yang menyita waktu permaisuri.

Ketika melihat motif pada Batik tersebut, Raja Paku Buwono III pun menanyakan maknanya pada sang permaisuri. Gusti Ajeng Ratu Kencana pun menjawab bahwa motif tersebut adalah simbol kesetiaan dan cinta kasih sang permaisuri kepada Raja.

Mendengar jawaban sang Permaisuri, cinta Raja kepada sang permaisuri pun semakin tumbuh, kemudian motif ini dinamakan Truntum yang artinya cinta bersemi kembali dan terus berkembang.

Saya rasa cinta Raja bisa tumbuh kembali dikarenakan mungkin sulit bagi Raja menemukan cinta yang tulus dalam pernikahan kerajaan. Maklum, pernikahan dilakukan biasanya karena hubungan politik, atau bisa jadi untuk melanggengkan kekuasaan semata. Dengan latar belakang inilah, mungkin menjadi alasan Raja untuk mencintai permaisurinya kembali, karena walaupun Permaisuri sudah sempat “diabaikan” olehnya, namun rasa cinta dan setianya masihlah terus ada untuk sang Raja.

Sejak saat itu, motif Truntum ini selalu dikenakan oleh para orangtua saat prosesi pernikahan adat Jawa Surakarta (Solo). Tujuannya sebagai doa untuk anak-anaknya yang sedang menjadi pengantin agar menjadi pasangan yang senantiasa bahagia dan langgeng.

***

Ada pelajaran yang saya dapatkan dari sejarah dibalik pembuatan motif Truntum ini, yakni kesabaran, kesetiaan dan ketulusan pada pasangan.

Dalam sebuah pernikahan, pastinya akan ada pasang surut kehidupan, termasuk rasa cinta. Cinta adalah sebuah rasa yang tidak bisa kita andalkan selamanya, karena cinta hanyalah rasa. Perasaan manusia bisa berubah sesuai dengan pergaulan, pengalaman hidup atau faktor kehidupan lainnya.

Dengan adanya sejarah motif Truntum tersebut, saya belajar untuk memegang komitmen dalam sebuah pernikahan. Pernikahan dibangun oleh suami dan istri, tidak bisa mengandalkan salah satu pihak untuk bisa memberikan kebahagiaan kepada kita selamanya.

Perceraian memang bukanlah hal yang tabu lagi dimata masyarakat, namun alangkah sia-sianya kehidupan pernikahan yang kita jalani apabila kata cerai mudah terucapkan.

Semoga yang sudah berpasangan langgeng terus hingga akhir hayat, tolong doanya juga ya buat saya, teman-teman 🙂

Salam tulus 🙂

Referensi

Admin. 8 Maret 2020. Motif Batik Truntum Cinta yang Terus Berkembang. Diakses dari Batiksolo.id tanggal 6 Oktober 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s