Si Batik Truntum yang Melambangkan Pengharapan dalam Pernikahan yang Abadi

Penikmat Hidoep.id – Pasti motif Batik difoto sering banget kamu lihat diberbagai kesempatan yang berkaitan dengan Batik πŸ˜€

Truntum, merupakan salah satu motif Batik tertua di Pulau Jawa. Eits, walaupun usianya sudah berabad-abad, namun makna didalamnya masih related banget lho dengan zaman sekarang, yakni tentang kehidupan percintaan dalam berpasangan.

Tumaruntum, yang kini diakrab Truntum menyimbolkan cinta yang abadi dan terus berkembang, Motif ini diciptakan oleh seorang permaisuri yang bersedih hati lantaran sang Raja lebih memperhatikan selirnya. Bersama permaisuri, sang Raja belumlah memiliki keturunan. Saat motif Truntum ini dilihat oleh sang Raja, Raja pun menjadi jatuh cinta kembali pada sang permaisuri.

Rasa cinta yang dimiliki permaisuri tidak semata karena dirinya terlalu pasrah pada keadaan untuk hanya memiliki seorang suami saja, dan Raja yang kembali mencintainya bukan kesirep hal gaib ataupun mantra dari motif Truntum yang dilukis oleh sang permaisuri. Ada latar belakang sosial dan politik yang membuat hubungan suami istri tersebut sempat merenggang.

Izinkan saya menjabarkannya …

Hampir rata-rata pernikahan kerajaan zaman dahulu didasari atas dasar kesepakatan politik. Pernikahan yang dilangsungkan bisa bertujuan untuk memperluas, mempertahankan kekuasaan ataupun lambang perjanjian damai antar kerajaan. Tapi tidak menutup kemungkinan, ketika kedua mempelai membina rumah tangga, lama-kelamaan timbul rasa cinta yang tersemat dihati pasangannya.

Alkisah seorang Raja yang bergelar Susuhunan Pakubuwono III, memiliki permaisuri bernama Kanjeng Ratu Kencana. Pada masa pemerintahannya di Kasunanan Surakarta, Solo, Susuhunan cukup mendapat banyak tekanan, warisan dari pemerintahan ayahnya, Pakubuwono II. Tekanan didapatnya dari Belanda yang turut campur tangan dalam pemerintahannya, kemudian ada tekanan lagi dari kedua pamannya yang masing-masing menguasai Praja Mangkunegaran dan Keraton Yogyakarta.

Ditambah adanya pemberontakan dari beberapa kelompok masyarakat.

Susuhunan Pakubuwono III dianggap lemah dalam memerintah, beliau terlalu manut dengan Belanda. Kemungkinan besar kelemahannya ini dikarenakan beliau terlalu belia saat naik takhta, ditambah lagi adanya perjanjian ayahnya dengan Belanda, yang membentuk pikirannya bahwa kerajaannya akan lebih aman saat beliau bekerjasama dengan Belanda.

Akibat banyaknya tekanan yang didapatnya, Susuhunan pun berusaha keras untuk mendapatkan putra mahkota dalam garis keturunannya. Bersama Kanjeng Ratu Kencana, Susuhunan sama sekali tidak mendapatkan keturunan putra. Susuhunan pun lantas mengambil wanita lain sebagai selirnya untuk mendapatkan seorang putra.

Apabila beliau tidak jua mendapatkan seorang putra, kekuasaan kerajaannya bisa jadi berpindah tangan ke penguasa lain. Ketika hal itu terjadi, tidak ada yang bisa menjamin hidup Susuhunan dan keluarganya akan tetap dibiarkan hidup atau dibantai, supaya tidak terjadi gejolak dikemudian hari.

Saking fokusnya untuk mendapatkan putra mahkota, sang permaisuri, Kanjeng Ratu Kencana pun terabaikan. Kesedihan yang mendalam dirasakan oleh sang permaisuri, tapi tak sanggup Kanjeng Ratu merengek, karena beliau memahami situasi pelik yang sedang dihadapi suaminya. Suaminya melakukan hal tersebut untuk melindungi keluarga kerajaan.

Dalam kesedihannya Kanjeng Ratu Kencana pun sering menatap Bintang Kejora yang bertaburan dimalam hari. Kerlipnya bintang digelapnya malam menginspirasinya untuk terus berharap. Gelapnya malam bagai perasaan Kanjeng Ratu yang sendu, kerlipnya bintang memberikan semangat bahwa ada secercah harapan suatu hari Susuhunan akan kembali memperhatikan dan menyayanginya.

Suatu ide pun muncul dibenak Kanjeng Ratu, beliau ingin menuangkan rasa cinta dan harapannya dalam bentuk seni. Seni merupakan bidang yang disukai oleh suaminya. Oleh karena itu, Kanjeng Ratu Kencana melukiskan Bintang Kejora diatas kain. Membatik…

Dasar warnanya yang hitam pekat, melambangkan gelapnya malam. Motif Bintang Kejora yang berwarna cokelat adalah corak warna khas Solo. Harapan akan Raja kembali mencintainya menjadi makna dari motif yang dilukis sang permaisuri.

Perasaan sedih dan sedikit berharap tertuang dalam hobi yang disukai suaminya, yakni seni membatik. Dari kegiatan tersebut, Kanjeng Ratu Kencana merasakan kehangatan dan kesedihannya sedikit terobati. Hal ini membuat dirinya tenggelam dalam kesibukannya membuat motif kain batik.

Melihat kesibukan istrinya, Susuhunan Pakubuwono III pun penasaran, apa gerangan yang dilakukan istrinya tersebut. Susuhunan pun menghampiri Kanjeng Ratu Kencana yang sedang melukis kain Batik dengan motif Bintang Kejora.

Terpesona dengan keindahannya, Susuhunan pun menanyakan pada Kanjeng Ratu, makna dibalik motif Batik yang beliau buat. “Secercah harapan”, merupakan makna yang disampaikan Kanjeng Ratu Kencana pada Susuhunan. Bingung dengan maksud dua patah kata tersebut, Susuhunan Pakubuwono III pun menelisik lebih dalam makna si Bintang Kejora tersebut yang dimaksud sang permaisuri.

Hati Susuhunan berdesir penuh kebahagiaan tatkala mengetahui makna secercah harapan, yakni harapan Susuhunan untuk kembali memperhatikan dan menyayangi Kanjeng Ratu. Harapan tersebut memberikan arti yang mendalam bagi Susuhunan, cinta yang tulus dan murni, perasaan yang tidak pernah Susuhunan dapatkan dari siapapun saat beliau bertakhta di kerajaan.

Selama ini Susuhunan Pakubuwono III lebih akrab dengan taktik politik yang membuat dirinya sangat jemu, namun tetap harus waspada. Melihat ketulusan cinta sang permaisuri kepada dirinya, maka motif Bintang Kejora diberi nama Tumaruntum atau Truntum, yang artinya cinta abadi yang terus berkembang.

Motif Truntum tersebut kemudian diresmikan sebagai motif Batik Kerajaan yang dipakai orangtua pengantin saat pernikahan. Motif ini melambangkan doa orang tua untuk anak-anaknya agar mereka bisa menjalani bahtera rumah tangga dengan rasa cinta yang tidak pernah luntur dilekang waktu.

Jadii… mau mencobanya? πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s