Mengenal Sultan Agung melalui Pemakaman Imogiri

Penikmat Hidoep.id – Akhir tahun 2019, saya pergi ke Yogyakarta. Tidak bermaksud berwisata, tapi karena ada sisa waktu sebelum kembali ke Tangerang, akhirnya saya memutuskan untuk berwisata didaerah terdekat tempat saya menginap.

Pemakaman Imogiri merupakan salah satu tujuan wisata yang saya datangi. Ketika datang kesana, saya banyak mendengarkan pemandu wisata dan Abdi Dalem menceritakan tentang raja-raja Jawa, termasuk Sultan Agung.

Setibanya disana, ternyata komplek pemakaman yang dibuka hanya tiga saja, dan saya hanya mengunjungi dua diantaranya, yakni Komplek pemakaman Sultan Hamengku Buwono VII – IX, yang dinamakan Saptorenggo. Dan Komplek Pemakaman Sultan Agung dan keluarganya, yang dinamakan Astana Kasultan Agungan.

Disana saya sungguh mengagumi kemegahan dan makna dibalik arsitektur pemakaman Imogiri. Kemegahannya, dikarenakan arsitekturnya tidak lekang dimakan waktu, dalam waktu sekian abad, struktur bangunannya masihlah kokoh dan belum ada renovasi besar-besaran. Kemudian setiap jengkal dari arsitektur pemakaman Imogiri, tidak hanya dibangun berdasarkan estetika saja, tetapi ada makna dibalik setiap struktur bangunannya. Seperti jumlah tangga dan arah bangunan yang akan kita bahas diartikel selanjutnya.

Kerajaan Mataram dulunya merupakan sebuah kerajaan yang besar di Jawa. Karena adanya perang saudara dan kelemahan kepemimpinan dari keturunan resmi Sultan Agung, maka Kerajaan Mataram pun terpecah menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Yogyakarta.

Maka itu di pemakaman Imogiri, komplek pemakaman dibagi menjadi dua, yakni sisi kiri dan sisi kanan. Di sisi kiri ada pemakaman raja dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan pemakaman raja dari Keraton Yogyakarta ada disebelah kanan. Ditengahnya ada pemakaman Sultan Agung.

Abdi Dalem memberi syarat, kalau mau masuk, pengunjung tidak boleh memakai alas kaki, dan pakaian pun haruslah memakai kain Batik khas Jawa yang melambangkan rakyat sedang mengunjungi Rajanya. Hal ini dilakukan untuk menghormati tradisi budaya, dan almarhum para raja.

Gerbang menuju Komplek Astana Kasultan Agungan | Dokumentasi Pribadi

Awalnya saya ragu, karena terik matahari saat itu sangat menyengat. Maklum saya tiba di Komplek Astana Kasultan Agungan pukul 12.30 WIB, bisa kamu bayangkan panasnya seperti apa. Kulit lengan saya saja yang tidak bersentuhan langsung dengan bebatuan jalan, terasa disengat matahari, apalagi telapak kaki yang bersentuhan langsung dengan bebatuan. Hoho… pastinya rasanya seperti terbakar.

Benar saja, ketika saya berjalan dibebatuan komplek pemakaman tersebut, rasanya saya ingin sekali cepat-cepat sampai di rumah pemakaman Sultan Agung. Telapak kaki saya seperti menginjak bara api. Sebagai informasi, jarak dari pintu gerbang Komplek ke Rumah pemakaman Sultan Agung dan keluarganya cukup jauh, kita harus menaiki 99 anak tangga terlebih dahulu.

Akan tetapi berlari tentu saja tidak diperkenankan, lantaran hal tersebut sama saja tidak menghormati kesucian dari tempat keramat (istilahnya). Oleh karena itu saya tetap berusaha menahan diri untuk tetap berjalan seperti biasa. Beruntung saya ditemani Abdi Dalem yang pandai bercerita dan sangat humoris, oleh karena itu, rasa panas yang menjalar ditelapak kaki saya teralihkan.

Semakin naik tangganya, saya pikir sengat matahari akan semakin terasa, namun ternyata tidak. Makin adem, bahkan. WOW! Dari sana saya kembali mengagumi arsitektur Pemakaman Imogiri, bebatuan zaman dulu memang beda kualitasnya, panas terik pun masih terasa adem dikulit.

Rumah kayu merupakan tempat pemakaman Sultan Agung bernaung. Kayu tersebut merupakan kayu jati. Sangat kokoh sekali, dan kata Abdi Dalem usia kayu tersebut sudah berabad-abad. Kata lapuk, sama sekali jauh dari kayu tersebut. Memang tidak sebagus bentuk kayu yang digunakan pembuatan mebel zaman sekarang, namun kalau dihitung dari usia kayu tersebut, maka kita akan mengaguminya karena tidak terkena rayap ataupun lapuk.

Konon kayu jati sering dijadikan Sultan Agung sebagai teknologi pembangunan, seperti Masjid Ghede Mataram. Kemungkinan besar pembangunan memakai kayu jati karena ketahanannya terhadap cuaca, tidak mudah lapuk dan tidak mudah terkena rayap ataupun serangga.

Hal ini menunjukkan bahwa Sultan Agung merupakan arsitek yang cerdas, karena menggunakan kas kerajaan secara efisien dan efektif. Beliau tidak hanya mementingkan estetikanya saja, akan tetapi kegunaan dari bahan bangunan sehingga bisa digunakan masyarakat untuk beribadah dalam jangka waktu yang lama. Apalagi masa-masa pemerintahan Sultan Agung, bangsa asing sudahlah masuk menjajah Indonesia, tentu saja kas kerajaan harus dipergunakan seefektif dan seefisien mungkin agar tidak menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat.

Selain itu, saya menganggap bahwa Sultan Agung adalah pribadi yang menghargai orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan dipajangnya empat tempayan dalam Komplek Astana Kasultan Agungan. Empat tempayan tersebut merupakah hadiah dari Kerajaan Sriwijaya (Palembang), Kesultanan Aceh, Kerajaan Ngerum (Turki) dan Kerajaan Siam (Thailand).

Pemberian tersebut tidak hanya dijadikan pajangan saja, akan tetapi dijadikan sesuatu yang berguna untuk rakyatnya dari generasi ke generasi. Terbukti hingga sekarang tempayan tersebut masih sering diisi air suci, dan masih banyak orang yang mempercayai khasiatnya.

Tidak hanya menghargai sesama manusia, Sultan Agung sangat menghormati Allah.

Hal ini ditunjukkan dengan terisinya air yang didoakan dalam empat tempayan. Air tersebut disebut dengan air suci oleh masyarakat setempat, karena dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Syarat untuk mengambil air suci tersebut, antara lain membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Ikhlas masing-masing tiga kali untuk Sultan Agung.

Syarat tersebut menunjukkan bahwa manusia seyogyanya hanya menyembah Allah, bukan menyembah allah lain untuk mendapatkan kesembuhan, kesuksesan ataupun kekuasaan.

Rasa cinta Sultan Agung pada Allah juga dibuktikan dengan adanya Sastra Gendhing yang digubahnya, isinya kurang lebih menitik-beratkan bahwa manusia haruslah bersandar pada Allah SWT.

Ditambah lagi dengan tersematnya gelar Sultan dalam namanya. Gelar Sultan diperoleh bukan karena beliau menciptakan gelarnya sendiri, namun secara resmi diakui kekuasaannya oleh Khafillah di Mekkah yang saat itu berkuasa, yakni Turki Utsmani.

Tidak mudah mendapatkan gelar Sultan yang diakui oleh Mekkah, karena Sultan sendiri berarti wakil Allah dibumi sebagai penguasa, yang tentu saja sikap dan tindak-tanduknya haruslah mencerminkan kaidah-kaidah agama Islam.

Sultan Agung juga merupakan pribadi yang menghormati tokoh agama di Indonesia, hal ini ditunjukkan dengan adanya anak tangga disekitar kolam Pemakaman Imogiri yang berjumlah 9, yang melambangkan Walisongo, sembilan tokoh penyebar agama Islam di Indonesia.

Sebagai Raja Mataram yang diakui kewibawaan dan kekuasaannya, Sultan Agung memberikan teladan bahwa sepintar-pintarnya manusia, sebesar-besarnya kekuasaan manusia, tetaplah kita harus menghargai sesama manusia, memikirkan kesejahteraan orang lain untuk jangka panjang, dan terutama tetaplah harus bertakwa pada Allah, karena manusia sama sekali tidak ada apa-apanya bila tidak ada Allah, sang pencipta.

Dari menjelajah Pemakaman Imogiri dan mengenal sosok Sultan Agung, saya belajar untuk meneladani sikap Sultan Agung untuk bertakwa pada Allah, dan menghormati budaya leluhur, menghargai orang lain, serta melakukan sesuatu hal untuk memikirkan jangka panjangnya.

Referensi Bacaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s