The Little Nyonya 2020 : Budaya Baba Nyonya di Malaysia, Kok Bisa Hampir Sama dengan Peranakan Tionghoa di Indonesia?

Penikmat Budaya.id – Sudahkah kamu menonton drama seri The Little Nyonya 2020? Kalau belum, wahh, saya sangat merekomendasikannya. Sangat layak ditonton dan tidak kalah menarik dengan penyajian cerita dalam drama Korea, yang berbeda hanya settingan waktu dan tempat saja.

Biasanya drama korea kan memakai settingan waktu masa modern, nah, kalau The Little Nyonya memakai settingan waktu pada masa tahun 1930-an sampai 1940-an. Masa-masa perang dunia II, lah. Lokasi yang diceritakan pun di Melaka dan Singapura. Trailernya bisa kamu tonton disini.

Salah satu Baba Nyonya Heritage di Malaysia, yang modelnya memakai kostum Kebaya dan Batik Nyonya | Foto Indephedia.com

Bagi kamu yang sudah menonton The Little Nyonya, tentu kamu tidak asing lagi dengan sebutan Baba Nyonya di Malaysia. Tidak hanya itu, bagi kamu yang pernah travelling ke Malaysia, tentu kamu juga pasti mendengar Nyonya heritage. Dulu saya pernah mengunjungi salah satu heritage-nya di Penang, tapi saya tidak terlalu antusias melihatnya saat itu, karena menganggap peninggalan yang ada disana, hampir sama dengan yang ada di Indonesia.

Namun setelah menonton The Little Nyonya 2020, rasa penasaran pun muncul mengapa cara berpakaian Baba Nyonya di Malaysia dan memasak makanannya hampir sama dengan peranakan di Indonesia? (Tidak sepenuhnya sama persis). Artikel demi artikel pun dikumpulkan dan mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan.

Sekitar abad ke 10-17 M, China dikuasai oleh Dinasti Mongol dan Manchu. Ketidakpuasan secara politik, ekonomi dan sosial rakyat China, membuat sebagian dari mereka terdorong untuk melakukan perantauan ke negeri lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Nusantara, salah satu negeri yang menjadi tujuan mereka.

Rakyat China yang merantau kebanyakan adalah laki-laki. Kebanyakan dari mereka menikahi wanita dari penduduk setempat. Walau di kampung halamannya, pria China bisa jadi sudah memiliki anak dan istri, tapi pada masa tersebut dianggap lumrah bagi pria untuk memiliki istri lebih dari satu, untuk memperbanyak keturunan.

Nah, keturunan antara China dan penduduk setempat itu disebut dengan Peranakan Tionghoa (di Indonesia), sedangkan di Malaysia, tepatnya di Melaka, keturunan China-Nusantara disebut sebagai Baba untuk laki-laki dan Nyonya untuk perempuan.

Baba sendiri diadaptasi dari bahasa Persia yang berarti Tuan untuk para pedagang. Sedangkan Nyonya, diadaptasi dari bahasa Italia, panggilan hormat kepada seorang wanita asing yang sudah menikah.

Adaptasi dari bahasa asing tersebut sangatlah wajar dilakukan oleh penduduk Nusantara mengingat adanya jalur perdagangan di Selat Malaka, yang kita kenal dengan Jalur Sutera. Sehingga banyak orang dari negeri asing yang datang untuk melakukan transaksi perdagangan, sekaligus adanya pengenalan dan pertukaran bahasa dan budaya ketika orang-orang tersebut singgah ke Nusantara.

Perpecahan wilayah Nusantara dimulai dari larinya Parameswara, pangeran dari Kerajaan Sriwijaya, Palembang. Perlindungan pun diberikan oleh bupati Temasek, bernama Temagi yang merupakan seorang penghulu Melayu yang ditunjuk oleh Raja Siam.

Bagai air susu dibalas air tuba, setelah dilindungi oleh Temagi, sang bupati Temasek, Pangeran Parameswara malah membunuhnya dan mengangkat diri sebagai bupati Temasek berikutnya. Kurang lebih 5 tahun kemudian, Parameswara meninggalkan Temasek lantaran mendapatkan ancaman dari Raja Siam dan adanya serbuan dari Kerajaan Majapahit.

Dalam pelariannya, Parameswara menyaksikan pertanda baik dimana kancil bisa mengelabui anjing ketika berteduh dibawah pohon Melaka. Untuk itulah ia mendirikan sebuah kerajaan Melaka. Ketika dirinya sudah menjadi Raja, Parameswara pun menikahi Puteri dari Kerajaan Samudera Pasai, Aceh.

Setelah menikahi sang Puteri, Parameswara pun menyebut dirinya Iskandar Syah. Gelar tersebut beraroma Islam. Ditambah dengan adanya referensi yang menyebut anggota kelas penguasa dan komunitas saudagar yang menetap di Melaka memeluk agama Islam.

Tahun 1511, Melaka ditaklukan oleh Portugal, kemudian tahun 1641, Belanda berhasil merebut Melaka. Dan tahun 1786, Britania Raya (bangsa Inggris) pun mendarat ke wilayah Nusantara, dan mengadakan perjanjian dengan Belanda, yang dinamakan dengan perjanjian Britania-Belanda.

Isi perjanjian tersebut membagi wilayah Nusantara menjadi dua, yakni Melaya (salah satunya wilayah Melaka) menjadi milik Britania Raya (Inggris) dan Indonesia menjadi milik Belanda.

Dengan sejarah pembagian wilayah Nusantara tidak heran kalau budaya Baba Nyonya di Malaysia itu hampir sama dengan peranakan Tionghoa di Indonesia.

Kain batik dan kebaya Encim (kalau di Malaysia disebut dengan batik dan kebaya Nyonya) dipakai oleh Nyonya (perempuan). Sarung dipakai oleh Baba (laki-laki). Dan masakan yang menjadi ciri khas Nyonya, hampir sama dengan masakan Indonesia kaya akan rempah.

Namun dengan seiringnya perkembangan zaman, terlebih setelah ada pembatasan wilayah yang jelas antara Malaysia dan Indonesia, tentu saja ada budaya Baba Nyonya dan peranakan Tionghoa mengalami adaptasi, sehingga akan ada perbedaan dari banyak segi kehidupan.

Referensi

One thought on “The Little Nyonya 2020 : Budaya Baba Nyonya di Malaysia, Kok Bisa Hampir Sama dengan Peranakan Tionghoa di Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s