Pilih Pintar dalam Ilmu Pengetahuan atau Cerdas dengan Mendapatkan Kebahagiaan?

Webinar yang saya ikuti pagi ini seperti membuka jendela baru untuk pikiran saya. “Revisiting Javanese Thinking” merupakan tema webinar Kraton Jogja, dengan salah satu narasumbernya Prof. Koentjoro, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gajah Mada, Indonesia.

Selama ini pintar identik dengan mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, seperti teknologi terbaru, berita terbaru, pandangan budaya luar, dan seterusnya yang menunjukkan kita mengikuti arus globalisasi, dan bisa beradaptasi. Saking dinamikanya, terkadang apa yang saya dapatkan, saya hanya tahu, tanpa benar-benar memahaminya.

Kepintaran tanpa memahami, yang pernah disentil dalam podcast Digital Dilemma tentang penggunaan smartphone dan aplikasinya. Kebanyakan dari kita bisa karena terbiasa, tapi belum tentu benar memahami seluk-beluk dari aplikasi-aplikasi yang terdapat dalam smartphone.

Misalkan saja aplikasi Face App sempat menjadi trending, dan kemudian beramai-ramai banyak orang yang menggunakan aplikasi tersebut dan meng-upload-nya di sosial media. Tanpa menyadari, bisa saja data diri kita diambil.

Nah, apa bahayanya kalau data diri kita diambil? Banyak orang juga yang tidak menyadarinya karena menganggap diri “ah, siapa saya, mau ambil, ya ambil aja, hidup saya begini-begini doang kok “. Padahal pencurian data diri itu bisa digunakan untuk pinjaman online, transaksi ilegal, dan sebagainya.

Pada akhirnya kepintaran yang dimiliki bisa saja hanya sebatas permukaan dari ilmu pengetahuan.

Webinar “Revisiting Javanese Thinking” yang saya ikuti tanggal 24 Juli 2021, dengan narasumber Prof. Koentjoro, GKR Mangkubumi dan GKR Hayu, serta moderator Alissa Wahid | Dokumentasi Pribadi

Nah, dalam webinar ini, saya seakan diajak kembali makna dari belajar dan berilmu pengetahuan dengan benar oleh Prof. Koentjoro berdasarkan budaya Jawa.

Beliau memperkenalkan Ki Ageng Suryomanteraman, yang ternyata namanya cukup terkenal didunia, bahkan orang luar banyak yang belajar dari Ki Ageng Suryomanteraman tentang kehidupan. Beliau disebut sebagai Bapak Humanisme, dan Plato van Java.

Ki Ageng Suryomanteraman merupakan pangeran ke-55, anak dari Sultan Hamengku Buwono VII. Beliau menguasai bahasa Belanda, Arab dan Inggris secara fasih. Uang yang dimilikinya bukan untuk mencari koneksi ataupun digunakan untuk mendapatkan simpati rakyat, melainkan membeli buku, seperti sejarah, filosofi dan agama.

Ditilik dari penggunaan uangnya menandakan Ki Ageng Suryomanteraman ini senang belajar. Setelah belajar, beliau memahaminya dan menerapkannya dalam kehidupannya, berupa pengalaman. Setelah itu pengetahuan dan pengalaman yang didapatkannya dibawa ke ruang diskusi, dipahami kembali, barulah disimpulkan.

Proses belajar, memahami, pengalaman, memahami, diskusi, memahami, baru kemudian menyimpulkannya antara belajar, pengalaman, diskusi, serta pemahamannya dalam kehidupan menciptakan pemikiran yang kritis. Apalagi pada zaman dulu, biasanya orang berkomunikasi dengan bahasa-bahasa simbolik, yang harus dicari dahulu pemahamannya lebih dalam.

Proses tersebut juga diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia dalam istilah “Olah pikir, olah rasa, olah karyo”, dalam proses ketiganya terdapat olah karso yang membuat kita menemukan karep (hati nurani).

Dengan pemahaman-pemahaman pengetahuan yang kita dapatkan, kemudian diterapkan dalam kehidupan, sembari memakai karep atau hati nurani, disana kita akan semakin menyadari bagaimana pengetahuan itu seharusnya digunakan dan diterapkan, sehingga kita menjadi pribadi yang berpengetahuan dalam, bukan sekedar asal tahu saja.

Ketika kita sudah memahaminya dengan baik, maka kita akan menyadari bahwa pangkat (kedudukan), derajat (kelas sosial) dan semat (harta) adalah kebahagiaan sementara saja. Pengetahuan yang kita miliki untuk digunakan sebaik-baiknya dalam kehidupan, dengan begitu kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

Nah, bagaimana bahagia itu bisa datang dengan sendirinya?

Saya akan membahas di artikel berikutnya ya, teman-teman.

Saya baru saja membeli buku tentang Ki Ageng Semanteraman untuk mempelajari lebih dalam, maksud dari pengetahuan yang bisa membawa kebahagiaan dengan sendirinya. Dan siapa tahu pengetahuan yang saya dapatkan dari buku tersebut, bisa bermanfaat bagi teman-teman.

Hmm… kalau saya intropeksi kembali, arah pendidikan kita selama ini semata untuk mendapatkan gelar. Kebanyakan dari kita, gelar yang didapatkan tersebut digunakan untuk mendapatkan kedudukan jabatan atau profesi yang lebih tinggi, dengan begitu reputasi kita akan lebih tinggi, kemudian diiringi dengan materi yang lebih banyak.

Reputasi yang baik serta datangnya materi yang lebih banyak, tentu membuat kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan, seperti benda, pelayanan, ataupun kehormatan. Apalagi masa sekarang materi dan benda menjadi acuan kesuksesan dalam hidup.

Namun apakah kita bisa benar bahagia setelah mendapatkan semuanya? Atau malah semakin tidak puas dengan apa yang kita miliki, sehingga ingin lebih, lebih dan lebih lagi, hingga bisa saja lupa hubungan kita sebagai manusia dengan manusia, Tuhan dan alam.

Tapi ini sih kontemplasi saya sementara setelah mengikuti webinar ini. Nah, kalau teman-teman sendiri memilih pintar dalam ilmu pengetahuan atau cerdas dengan mendapatkan kebahagiaan? Silahkan komen ya, supaya kita bisa saling sharing.

Sehat selalu, matur nuwun.

Referensi

Webinar Kraton Jogja bertema “Revisiting Javanese Thinking” yang diadakan tanggal 24 Juli 2021 pukul 08.30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s