Goodbye My Princess : Adat Pernikahan Tradisi Mongolia Suku Danchi

Drama seri Goodbye My Princess yang sudah tayang di Netflix ini benar-benar nagih banget untuk ditonton. Kini saya sedang menonton yang kedua kalinya.

Serial yang sudah naik tayang dari tahun 2019 ini tidak hanya menceritakan tentang percintaan, akan tetapi menayangkan bagaimana psikologi keluarga dalam menghadapi pernikahan politik, mengapa pernikahan politik diadakan, kemudian strategi politik antar kerajaan dan internal kerajaan, untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan.

Banyak pembelajaran yang dipetik dari tayangan serial tersebut, pikiran kita diajak untuk terus berpikir, emosi pun digodok antara sedih, bahagia, terharu dan simpati, sekaligus gremet.

Dari semua adegan serial tersebut, saya tertarik untuk membahas adat pernikahan tradisi Mongolia yang diadakan untuk Gu Xiao Wu atau pangeran kelima dari Kerajaan Li, Li Cheng Yin, dan Qu Xiao Feng, putri kesembilan dari Kerajaan Liang Barat, yang juga merupakan cucu kesayangan dari Kerajaan Dan Chi, Raja Tömür.

Pernikahan yang akhirnya disetujui juga oleh Kakek Qu Xiao Feng, Raja Tömür, karena melihat ketulusan dan kejujuran Gu Xiao Wu.

Dalam pernikahan Suku Danchi, ikat pinggang menjadi sesuatu yang sakral dalam meresmikan hubungan suami istri. Saya belum mendapatkan literatur mengapa ikat pinggang menjadi hal yang penting, kalau nanti saya sudah dapat, saya segera update artikel ini, ya.

Ikat pinggang untuk calon mempelai pria pun dipilihkan oleh sendiri oleh calon mempelai wanita.

Saat di hari H pernikahan, calon pengantin diruangan masing-masing dipakaikan ikat pinggang yang sudah disediakan. Ikat pinggang calon pengantin pria nampak gagah dengan dihiasi tonjolan besi berwarna emas, dan ikat pinggang calon mempelai wanita terlihat begitu manis dengan manik-manik berwarna merah dan hijau tosca.

Kemudian calon pengantin pria dan wanita berjalan bersisian menuju mimbar bundar yang sudah dipersiapkan.

Sepanjang perjalanan menuju mimbar, kedua calon pengantin berjalan dengan rona wajah kebahagiaan, bebas untuk berjalan dan bergandengan tangan. Tidak terlalu kaku. Juga, taburan bunga terus dilemparkan kepada kedua calon pengantin, oleh para warga suku Danchi yang menonton.

Dua orang dibelakang calon pengantin menyerok jejak kaki calon pengantin ke arah depan

Dibelakangnya, terdapat dua orang yang menyerok jejak kaki mempelai pria dan wanita ke arah depan, Menurut adatnya, jejak kaki calon pengantin melambangkan jalan dan kenangan yang mereka lalui, serokan jejak kaki ke arah depan, melambangkan nasihat pada calon pengantin untuk selalu maju.

Batu kerikil yang sengaja diletakkan sebagai tanda rintangan yang akan dihadapi bersama dalam rumah tangga

Kemudian kedua calon penganti harus melewati kerikil bebatuan yang memang sengaja diletakkan. Kerikil bebatuan tersebut melambangkan rintangan yang akan dihadapi bersama dalam kehidupan berumah tangga.

Sesampainya di mimbar, seorang tetua meneriakkan kalimat didepan calon pengantin, “Angsa liar terbang tinggi, pasangan hidup bersama selamanya”. Kemudian sang tetua pun memberikan seekor angsa untuk calon pengantin pria dan wanita.

Kedua mempelai bersiap menerbangkan angsa ke langit sebagai tanda pasangan selalu bersama selamanya

Setelah diberikan, kedua calon pengantin pun menerbangkan kedua ekor angsa tersebut ke langit, dan melihat angsa-angsa tersebut terbang tinggi dan terbang berdampingan.

Mempelai wanita memakaikan ikat pinggang pada mempelai pria

Seandainya adegan tersebut tidak diinterupsi oleh laporan adanya serbuan dari Kerajaan lain, mungkin pernikahan adat tersebut akan dilanjutkan dengan saling menukarkan ikat pinggang antara calon pengantin pria dan wanita, melambangkan mereka sudah menjadi suami istri dihadapan Dewa Langit (kepercayaan suku Danchi) dan semua orang yang menyaksikan.

Sungguh indah pernikahan adat karena memiliki banyak simbol-simbol sebagai doa untuk kebahagiaan. Walau bahagia sebenarnya tergantung dari pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berumah tangga, namun doa kebahagiaan untuk pasangan memberikan dukungan dan semangat bagi pasangan suami istri yang menjalaninya.

Oh, bagi teman-teman yang belum menontonnya, kamu bisa menyaksikannya di Netflix dengan keyword Goodbye My Princess. Trailernya bisa diklik di link ini.

Selamat menikmati.

NB : Foto diambil saat menonton Netflix melalui smartphone, mohon maaf kalau kualitas fotonya kurang baik.

2 thoughts on “Goodbye My Princess : Adat Pernikahan Tradisi Mongolia Suku Danchi

    1. Wah, terima kasih banyak Mas Kris sudah mampir ke blog. Senang sekali. Hehe. Belum, Mas, soalnya saya belum tahu persis nama suku Danchi di Mongolia itu, nama sebenarnya atau nama samaran. Mungkin nanti akan saya muat kalau sudah tahu persis nama suku dan budayanya. Terima kasih atas atensinya ya, Mas Kris. Salam 🙏🏼

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s