Menikmati Hari dengan Yuan Yang Ping

Kusesap minuman yang bernama Yuan Yang Ping selagi masih dingin.

Ahh, begitu menyegarkan tenggorokkan, mengalir ke hati dan memperbaiki moodku yang sedang jenuh.

Ya, sangat jenuh sekali. Jenuh terhadap pekerjaanku yang pada masa pandemi ini, malah durasinya semakin panjang. Hampir 24 jam.

Walau begitu aku paham sih kenapa durasi pekerjaan menjadi ekstra? Bos kasihan juga karena sekarang omset perusahaan lagi memble, tapi harga bahan baku naik terus.

Sekarang duniaku hanya berputar di pekerjaan saja. Tidak ada hiburan lagi, seperti dulu.

Saat weekend bisa jalan sama teman-teman, kemudian menghabiskan hari dengan kongkow sambil ngopi cantik di cafe. Sekarang, aku berjibaku dengan laptop dan smartphone saja.

Aku butuh suasana yang berbeda.

Yuan yang ping… aku menatap minuman ini. Ah, rasanya minuman saja memiliki cerita yang lebih dinamis dan dramatis ketimbang kehidupanku saat ini.

Minuman ini merajuk pada kisah percintaan. Kalau dalam bahasa Mandarin, yuan yang adalah sepasang angsa yang saling jatuh cinta dan mereka saling melengkapi.

Maka itu ramuan dari yuan yang ping, adalah kopi dan teh. Dua bahan yang mengandung kafein disatukan dalam satu minuman. Padahal oleh minuman lain, mereka seringkali dipisahkan.

Akan tetapi ramuannya tidak terbatas pada kedua bahan itu saja, ada susu yang turut serta membuat minuman ini terasa lebih kental dan creamy di lidah.

Entah karena aku menginginkan drama dalam kehidupanku yang datar, aku melihat susu bagai percikan api cinta yang membuat jalinan kopi dan teh semakin panas membara.

Aku membayangkan betapa datar kalau hanya ada rasa kopi dan teh saja. Masing-masing memiliki rasa pahit yang khas, namun ketika menyentuh lidah, aku tidak yakin kedua ramuan tersebut akan saling menyatu di lidah, bisa jadi mereka saling berlomba untuk memberikan sensasi pahit dilidah.

Kehadiran susu membuat hubungan kopi dan teh menjadi lebih hidup dan menyatu, sehingga terasa nikmat dilidah, mengalir hingga ke tenggorokanku secara sempurna.

Yuan yang, dengan ping sebagai pelengkap. Ping kalau dalam bahasa Mandarin diartikan sebagai es. Makanya lebih enak dinikmati selagi minuman masih dingin.

Tapi tidak mesti dingin sih, banyak juga di kedai Singapura, yang dikenal dengan nama Kopi Tiam, menyajikan minuman ini selagi hangat. Menemani para penikmatnya mengobrol santai dengan teman-teman.

Cuman aku lebih senang mengikuti aturan minumnya, minum selagi dingin, terutama untuk mengobati moodku yang sedang amburadul.

Btw, aku tinggal di Indonesia, lho, dan biasanya aku menikmati minuman ini dengan nge-Go-Food di Ding! Cafe. Maklum lah mesti anteng sementara di rumah karena pandemi.

Hmm… aku jadi ingin tahu, bagaimana caramu mengobati moodmu yang sedang rusak atau jenuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s